Kesenangan Duniawi

Kesenangan Duniawi

Allah –ta’ala- berfirman:

 زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

Dijadikan tampak indah dalam pandangan manusia cinta terhadap nafsu, berupa wanita-wanita, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik.”  (QS. Ali ‘Imraan: 14).

Allah -Ta’ālā- menyampaikan bahwasanya Dia telah menghiasi hidup manusia -sebagai ujian bagi mereka- dengan kecintaan pada kesenangan-kesenangan duniawi, seperti wanita, anak laki-laki, harta yang banyak dan berlimpah berupa emas dan perak, kuda yang bertanda lagi bagus, binatang ternak berupa unta, sapi dan kambing, dan pertanian. Itu adalah kesenangan hidup di dunia yang bisa dinikmati dalam jangka waktu tertentu kemudian hilang. Maka tidak sepatutnya seorang mukmin menggantungkan hidupnya pada kesenangan tersebut. Hanya Allah saja yang memiliki tempat kembali yang baik, yaitu surga yang luasnya seluas langit dan bumi.

Beberapa faedah ayat di atas:

 

  1. Fitrah manusia menyukai hal-hal duniawi tersebut di atas dan inilah salah satu bentuk ujian bagi kaum muslimin.
  2. Kesenangan-kesenangan duniawi tidak sebanding dengan kesenangan kelak di akhirat.
  3. Kenikmatan duniawi sifatnya sementara yang akan musnah sedangkan kenikmatan akhirat abadi.
  4. Kebahagian atau kesenangan yang sebenarnya adalah surga yang kenikmatannya tak pernah terbayangkan atau terdetik sedikitpun di benak manusia.
  5. Orang yang berakal tidak akan menukar kesenangan dunia yang sementara dengan kenikmatan abadi.
  6. Hendaknya seseorang memanfaatkan kenikmatan duniawi sesuai dengan kebutuhan, tidak berlebihan, sebab jika melebihi batas kewajaran dalam menggunakannya dapat mengakibatkan dirinya lalai terhadap kenikmatan nan abadi.
  7. Menjadikan kenikmatan duniawi sebagai fasilitas untuk meraih pahala di sisi Allah subhanahu wa ta’ala, sebagai contoh: bersedekah, menggunakannya untuk beribadah, dan amal saleh lainnya.

 

Oleh: Akhmad Taufik Arizal, Lc., M.H.

 

Referensi:

https://quranenc.com/ar/browse/indonesian_mokhtasar/3#14

https://quranenc.com/ar/browse/indonesian_affairs/3#14

Aysar at-Tafasir karya Jabir bin Musa Abu Bakar al-Jaza`iri (1/292-293)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *