PELAJARAN DARI PERANG JAMAL DAN PERANG SIFFIN

PELAJARAN DARI PERANG JAMAL DAN PERANG SIFFIN

PELAJARAN DARI PERANG JAMAL DAN PERANG SIFFIN

Perang jamal adalah fitnah yang akhirnya berujung pada peperangan antara pasukan Khalifah Ali bin Abi Thalib dengan pendukung sahabat ‘Aisyah, Thalhah, Az Zubair bin Awwam radhiallahu ‘anhum ajma’in.

Perang Siffin, terjadi antara pasukan Khalifah Ali bin Abi Thalib dengan pendukung sahabat Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiallahu ‘anhum ajma’in.

Dan di sisi lain, terdapat banyak sahabat bahkan sebagian dari kesepuluh sahabat yang dijamin masuk surga, semisal Sa’ad bin Abi Waqqas, Sa’id bin Zaid, dan sahabat lainnya semisal Ibnu Umar, Abu Hurairah, Sa’id bin Al ‘Ash, Zaid bin Tsabit memilih untuk diam dan menjauhi kekacauan dan peperangan yang terjadi antara dua kelompok ummat Islam.

Kelompok ketiga ini, memilih untuk menjaga tangan mereka agar tidak berlumuran dengan darah sebagian saudaranya, mereka diam membisu tidak ikut berkomentar, dan menahan dirinya dari hanyut atau membela atau menentang kedua kelompok yang berperang.

Padahal dari dalil dalil yang ada, nampak jelas bahwa Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu lebih dekat kepada kebenaran, dan berstatus sebagai khalifah yang benar benar menegakkan syari’at Islam, bukan sekedar menyuarakan Islam, namun benar benar menerapkan Islam, memperjuangkan Islam dan memerangi kekufuran dan kemaksiatan.

Walau demikian, sekali lagi sahabat sahabat di atas lebih memilih diam, diam, diam, dan diam, menjauhi kekacauan yang terjadi dan tidak rela menjadi pembela salah satu dari kedua kelompok yang bertikai sampai pun kelompok sang Khalifah yang sah.

Kenapa?

Darah ummat Islam, ya karena mereka takut bila ikut berlumuran darah ummat Islam, walaupun kontribusinya hanya sekedar ikut mendukung secara lisan atau merestui pihak yang mengalirkan darah saudaranya ummat Islam, siapapun yang mengalirkannya.

Mereka semua hafal dan betul betul paham haramnya memberontak, melawan pemimpin yang sah, namun mereka juga paham bahwa darah ummat Islam sangatlah berharga untuk ditumpahkan, apalagi dengan alasan yang tidak jelas.

Para sahabat yang memilih diam, diam, diam dan diam benar benar menyadari betapa beratnya tanggung jawab atas tertumpahnya darah ummat Islam.

*لزوال الدنيا أهون على الله* *من قتل رجل مسلم”*

“Sirnanya dunia (dengan seluruh isinya) lebih ringan di sisi Allah dibanding membunuh seorang muslim”.
(At T irmizy)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

*( لا يزال المؤمن في فسحة من دينه ما لم يصب دما حراما )*

“Seorang yang beriman senantiasa dalam kelapangan dalam urusan agamanya, selama ia tidak menumpahkan darah seorang muslim”
(Al Bukhari).

Dari kejadian besar dalam sejarah ummat Islam di atas, tergambar bahwa di saat terjadi kekacauan, dan pertumpahan darah sesama ummat Islam, maka ada tiga pilihan bagi anda:

1 & 2 Memilih menjadi bagian dari kedua pihak yang berseteru dan berperang.

3. Pilihan ketiga, ialah diam, diam, diam, tidak ikut dalam kedua kelompok yang bertikai, walaupun itu adalah pihak Khalifah sekelas sahabat Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, apalagi pihak khalifah yang kualitas iman dan keislamannya jauh dibanding sahabat Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu.

Bila demikian itu sikap para Salaf, begitu takut untuk memiliki andil dalam tertumpahnya darah seorang muslim, padahal pemimpinnya adalah seorang Khalifah yang sekaligus menantu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bagaimana bila ternyata yang berperang adalah penjahat melawan penjahat, perampok melawan penyamun, atau orang orang jalanan yang bernafsu tawuran?

Kawan!
Jaga dirimu agar tidak kecipratan darah saudaramu sesama muslim, dan jaga dirimu agar tidak menjadi “kain lap” untuk mengusap darah saudaramu sesama muslim yang tumpah di tangan orang orang yang tidak takut kepada Allah dan hari akhir.

Diam, diam, diam, diam itu adalah salah satu sikap yang dicontohkan oleh Salaf.

Lo berarti tidak salah bila tetap ikut pada kedua kelompok yang bertikai dong, dalam rangka meneladani Khalifah Ali bin Abi Tholib dan sahabat ‘Aisyah, Az Zubair & Mu’awiyah radhiallahu ‘anhum?

He he he, kawan!
Bila yang bertikai adalah seperti mereka, masing masing beriman dan benar benar berjuang untuk Allah Ta’ala, maka saya sepakat dengan kesimpulan Anda.

Namun bila yang bertikai adalah dua kelompok ummat Islam yang rebutan sekerat daging busuk, atau satu set kursi rapuh, atau ujung ujungnya duet, maka diam diam diam itulah satu satunya pilihan cerdas.

Diam bukan berarti diam, namun fokus pada dakwah dan membenahi diri sendiri, terus berdakwah itulah pilihan cerdas kawan, bukan diam karena pesimis.

Kawan, camkanlah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini:

*وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لاَ يَدْرِى الْقَاتِلُ فِى أَىِّ شَىْءٍ قَتَلَ وَلاَ يَدْرِى الْمَقْتُولُ عَلَى أَىِّ شَىْءٍ قُتِلَ*

“Demi Allah yang jiwaku adalah dalam genggaman-Nya, sungguh akan datang suatu masa, pembunuh tidak tahu apa alasan ia membunuh dan yang dibunuh pun tidak tahu apa alasan ia dibunuh”.
(Muslim)

Semoga membuka cakrawala baru dalam berpikir dan bersikap.

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, MA _hafizhohulloh_

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *